Semangat untuk masa depan yang cerah itulah motto saya, dan jangan pernah menyerah untuk melakukan pekerjaan yang kamu hadapi

Jakarta Tak Enjoy lagi!!!!



Enjoy Jakarta! Sebuah slogan yang selama ini didengungkan Jakarta untuk menarik wisatawan. Namun, menjadi sebuah pertanyaan besar, bagaimana bisa menikmati Jakarta jika macet di mana-mana.

Saat hujan, banjir terhampar. Transportasi massal tak menjanjikan kenyamanan. Ya, itulah Jakarta dengan segala problematikanya. Jakarta sebagai sebuah kota sudah memikul beban yang sangat berat. Beban kota Jakarta sudah berlebihan. Tidak hanya dari sisi demografi, namun juga dari sisi transportasi dan pelayanan publik yang semakin memprihatinkan. Tingkat kemacetan di Jakarta makin akut. Sudah banyak solusi yang ditawarkan untuk mengatasi kemacetan Jakarta. Sebagaimana disampaikan Wakil Presiden Boediono pada September 2010 lalu, setidaknya ada 17 langkah untuk mengatasi kemacetan di Jakarta yang diprediksi akan mengalami kelumpuhan pada tahun 2012.

Namun, beragam solusi tampak tidak memecahkan masalah karena kota Jakarta memang sudah kelebihan beban. Daya tampung infrastruktur DKI Jakarta memang tidak mampu mengimbangi laju jumlah populasi kendaraan dan penduduk yang semakin bertambah tiap tahun. Saat ini, daya dukung infrastruktur jalan DKI Jakarta hanya mampu menampung 1,05 juta kendaraan. Panjang jalan yang dimiliki Jakarta sepanjang 7.650 kilometer dan luas jalan seluas 40,1 kilometer atau sekira 6,2% dari luas wilayah DKI Jakarta. Sementara pertumbuhan panjang jalan hanya 0,01% per tahun. Berdasarkan Polda Metro Jaya, pada tahun 2009 lalu jumlah sepeda motor di Jakarta mencapai 7,5 juta unit atau meningkat dari tahun 2008 yang mencapai 6,7 juta unit.

Sedangkan tahun 2010, pertambahan kendaraan di Jakarta sekira 1.117 kendaraan per hari, terdiri dari 220 mobil dan 897 sepeda motor. Total kebutuhan perjalanan di DKI Jakarta sebanyak 20,7 juta perjalanan per hari. Kemudian total jumlah kendaraan bermotor yang melintasi jalan di DKI Jakarta sekira 5,8 juta unit, terdiri dari kendaraan pribadi sebanyak 5,7 juta unit (98,5%) dan angkutan umum 88.477 unit (1,5%). Menurut Pengamat Perkotaan Yayat Supriatna, sebagai sebuah kota, Jakarta semakin tertatih karena menanggung beban jumlah penduduknya yang telah mencapai 9,6 juta jiwa pada 2010. Kemacetan hanyalah salah satu masalah di antara sederet masalah yang ada, di antaranya banjir, kriminalitas, pengangguran, konflik sosial, pencemaran lingkungan, serta kemiskinan kota yang masih menjadi pemandangan umum sehari-hari di berbagai wilayah Jakarta. Faktanya arus urbanisasi ke Jakarta terus terjadi.

“Yang perlu dicermati adalah jika terjadi peningkatan jumlah urbanisasi yang sudah berlebihan, atau yang sudah tidak terkendali. Hal ini akan dapat menimbulkan implikasi terhadap berbagai permasalahan pada penduduk kota itu sendiri,” ujarnya. Urbanisasi menjadi salah satu faktor terus bertambahnya penduduk Jakarta. Menurut survei terakhir Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Jakarta mencapai 9,6 juta jiwa. BPS DKI Jakarta memprediksi pada 2020 jumlah penduduk Jakarta akan mencapai 11 juta jiwa. Jumlah itu belum termasuk orang yang bekerja di Jakarta namun tinggal di kota-kota penyangga. Jumlah penduduk Jakarta pada siang hari bisa bertambah sekira 2 hingga 3 juta jiwa.

Dengan jumlah penduduk yang besar, rata-rata kepadatan penduduknya pun juga tinggi. Berdasarkan sensus penduduk 2010, rata-rata kepadatan penduduk Jakarta mencapai 14.476 jiwa per kilometer persegi. Kota dengan penduduk yang terlalu padat akan meningkatkan mahalnya harga lahan untuk tempat tinggal dan usaha, layanan sistem transportasi kian memburuk dan tingkat upah kerja akan terus menurun akibat meningkatnya persaingan. Kalau sudah begini, masih bisakah slogan Enjoy Jakarta! diterapkan untuk Jakarta yang sudah kurang ”nikmat” lagi?
Share this article :
 
Reaksi: 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ILMU TENTANG DUNIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger