Semangat untuk masa depan yang cerah itulah motto saya, dan jangan pernah menyerah untuk melakukan pekerjaan yang kamu hadapi

Marakesh, Pusat Seni Budaya Arab Khas Afrika


Marakesh merupakan kota ketiga terbesar di Maroko, setelah metropolitan modern Casablanca, dan ibu kota Rabat. Kota ini sangat kaya peninggalan sejarah, karena pada abad ke-11 pernah menjadi ibu kota Kerajaan Maghribi Dinasti Murabitun.

Sebuah dinasti Arab-Berber (Afrika Utara) yang pernah melahirkan penguasa-penguasa Andalusia (Spanyol) ketika berada di bawah kekuasaan kerajaan muslim (750-1492).

Jejak-jejak kejayaan masa lalu Murabitun masih tampak pada pasar tradisional yang menonjolkan nuansa budaya Berber, warung-warung penjual manisan khas Pegunungan Atlas, hingga bangunan-bangunan tempat membuat gerabah ‘keramik biru’ yang amat dikagumi penggemar pernik-pernik hiasan rumah. Selain itu ada juga gerbang-gerbang kota yang kokoh, dilengkapi pintu besi dan juga menara-menara terbuat dari batu bata merah setengah jingga.

Bangunan-bangunan kuno yang masih terpelihara utuh, di antaranya Menara Kutubia bersama masjidnya, gerbang tua Babul Aquino, Souqul Madina (pasar kota). Biro-biro wisata di Rabat atau Casablanca selalu mempromosikan Marakesh sebagai pusat seni budaya Arab Berber khas Afrika Utara yang masih bertahan dari serbuan modernisasi.

Di Souqul Madina umpamanya, bebagai corak perhiasan logam dari emas, platina, perunggu, kuningan, dan tembaga, menjadi ikon cendera mata. Juga wangi-wangian yang dikemas dalam wadah-wadah unik menarik, baik botol kaca maupun keramik, menebarkan aroma parfum alam yang bersumber dari bunga-bungaan, rumput atau daun-daunan dan kayu-kayuan asli Pegunungan Atlas.

Sesak padat suasana pasar tak terasa berkat semilir angin dari lubang-lubang di atas atap tinggi. Ditambah denting mandolin dan gambus, mengiringi dendang lagu-lagu padang pasir.

Jika kebetulan kita berada di Marakesh saat bulan puasa, di sebuah lapangan luas, atau alun-alun yang berada di dekat Masjid Kutubia, masjid jami terbesar di Marakesh, di situ para pejalan kaki, pedagang kaki lima, serta para penyaji berbagai atraksi, berkumpul hingga keadaan hiruk-pikuk.

Suara teriakan, obrolan, nyanyian, berbaur dengan tabuhan bermacam-macam alat musik pengiring aneka ragam pertunjukan. Ada sulap, akrobat, badut, dan banyak lagi. Semuanya menarik untuk ditonton, sambil menunggu azan magrib tiba.

Para penyaji atraksi "seni rakyat" tersebut, bukan hanya penduduk asli Marakesh, atau berasal dari kota-kota lain di Maroko, seperti Rabat, atau Casablanca. Tapi juga dari luar negeri. Antara lain; Senegal, Mauritania, Nigeria, Tunisia, Aljazair. Pokoknya multietnis dan multibangsa.Yang paling banyak mendapat perhatian adalah tukang sulap. Menggunakan tambang katun, rotan, ular kobra hidup dan peti kayu tertutup kain hitam.

Jika matahari sudah terbenam, acara yang riuh rendah mendadak sepi. Alun-alun Marakesh menjadi kosong karena semua orang berbondong-bondong ke masjid Kutibia, untuk ikut menyantap hidangan future (tajil) istimewa, berupa air teh campur bubuk "kardamon" (kapol) serta buah kurma segar setengah matang.

Usai salat magrib, baru berbuka makanan pokok yaitu "couscous" sejenis keripik terbuat dari gandum, dicelupkan ke kuah gulai daging kambing atau unta yang gurih berminyak. Menu utama ini, didampingi "kebab" berbentuk keratan daging ditusuk seperti sate.

Bumbunya terbuat dari tumbukan kacang tanah , kecap kental, perasan jeruk nipis. Disediakan pula yoghurt dicampur irisan tomat dan bawang merah, jika penyantap "kebab" menginginkan rasa dan selera lain.

Mampir dan beristirahat sejenak di Marakesh, memang memiliki kesan tersendiri, kesan yang tidak mudah kita dapatkan dan kita lupakan sepanjang hidup kita. Terutama bagi wisatawan yang cuma lewat semalam dua malam di kota kuno yang penuh sejarah itu.
Share this article :
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ILMU TENTANG DUNIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger