Semangat untuk masa depan yang cerah itulah motto saya, dan jangan pernah menyerah untuk melakukan pekerjaan yang kamu hadapi

Janganlah Kita Melupakan Kearifan Lokal

Kategori Sosial
Oleh : Ubaydillah, AN
Jakarta, 8/18/2009
Kearifan Lokal

Di tempat kerja, silahkah Anda mengunakan teori yang canggih-canggih. Tapi, untuk menghadapi hidup, Anda tidak bisa tidak untuk kembali menggunakan kearifan local (traditional wisdom)!� Itulah catatan pendek yang dapat disimpulkan kalau kita membaca kutipan Tao, seperti ditulis John Heider (The Tao of Leaderhip: 1999), tentang pentingnya menghormati kearifan lokal atau ajaran hidup yang sudah lebih dulu diajarkan kita dari nenek moyang melalui sekian proses yang kemudian kita disebut kekayaan peradaban.

“Tugas kita adalah memfasilitasi proses hidup dan mengklarifikasi konflik. Untuk bisa berperan dalam tugas itu dengan baik, yang lebih dibutuhkan adalah kemampuan menggunakan akal sehat dan kearifan lokal, ketimbang gelar akademik�, begitulah yang ditulis. Kenapa begitu? Jawabannya ada. Berbagai teori ilmu pengetahuan yang kita peroleh dari bangku akademik itu umumnya hanya OK ketika digunakan untuk meresponi persoalan yang kasuistik dan sesaat (here and now) secara langsung.

Oleh sebab itu, karena hidup ini bukan semata persoalan here and now, maka, pesan Tao, teori apapun yang kita pakai untuk memecahkan persoalan hidup hendaknya jangan sampai bertentangan dengan kearifan lokal. Alasannya adalah karena kearifan lokal itulah yang mengajarkan kita tentang bagaimana prinsip-prinsip hidup yang paling fundamental itu bekerja secara jangka pendek dan jangka panjang atau how thing works.

Misalnya kita memulai menulis atau memulai apa saja. Dengan teori dan teknik yang kita kuasai, mungkin kita bisa menulis. Hanya, untuk bisa kontinyu dan terus ada perbaikan dalam tulisan kita, baik seara redaksi dan isi, rasa-rasanya tak mungkin itu terjadi tanpa kesabaran, ketekunan, ke-telaten-an, dan seterusnya itu. Ini semua adalah kearifan lokal yang nyaris tak kita temukan dalam buku-buku akademik modern sebagai problem solver.

Kita termasuk bangsa yang kaya peradaban. Salah satu indikatornya adalah adanya kearifan lokal pada tiap-tiap suku yang merupakan hasil dari proses perjalanan spiritual nenek moyang. Cuma, yang agak sedikit aneh, justru orang luar yang melihat itu sebagai wisdom dan yang melihat itu perlu dihargai sebagai wisdom. Wayang, misalnya, menyimpan berbagai pelajaran tentang hidup, hingga waktu tayangnya pun disesuaikan dengan bagaimana hidup itu bekerja.

Ketika masih sore, cerita yang diangkat biasanya lakon yang enak-enak, misalnya ada seorang yang punya visi mulia. Begitu masuk tengah malam, orang yang punya visi mulia ini dihadang oleh keadaan buruk atau tokoh buruk. Walaupun di tengah perjalanannya mengalami berbagai kekalahan, namun di akhirnya, tokoh baik itu menang. Kemenangan tokoh yang baik itu disesuaikan waktunya dengan munculnya fajar di pagi hari.


Butuh Pengembangan
Baik dalam pewayangan atau dalam hidup sehari-hari, ada banyak pelajaran yang diajarkan oleh peradaban tradisional, entah yang terkait dengan nilai-nilai spiritual, emosional-sosial, atau intelektual. Hanya, memang perlu dicatat bahwa nilai-nilai peradaban tradisional itu sepertinya butuh pemahaman, penafsiran dan kontekstualisasi yang baru (engineering). Tanpa ini, mungkin kita akan mudah melecehkannya, memahaminya secara salah, atau menerapkannya secara lemah-kalah.

Sebagai contoh misalnya ajaran Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya diri dengan Tuhan). Tanpa engineering, kita akan mudah mengatakan itu musyrik (menyekutukan Tuhan) atau mempraktekkannya secara “aneh�. Tapi kalau dengan engineering, itu dahsyat kandungan spiritualnya. Hanya ketika kita sudah terus berusaha me-manunggaling-kan diri itulah energi positif (suara Tuhan) akan muncul seiring dengan menurunnya energi negatif (suara setan) dari diri kita.

Jika kita terus berusaha untuk me-manunggaling-kan diri, maka perilaku kita akan semakin terdikte oleh kesadaran tentang apa yang “diinginkan oleh Tuhan� untuk kita perankan di dunia ini. Tapi, jika tanpa manunggaling, maka prilaku kita akan lebih mudah terdekte oleh dorongan nafsu diri atau dorongan setan yang sangat berpotensi menyimpang atau kurang peduli.

Contohnya lagi adalah suwargo manut neroko katut (masuk surga ikut, masuk neraka pun terikutkan). Kalau kita memahaminya dengan logika yang superfisial, bisa-bisa itu akan kita anggap sebagai pelecehen terhadap perempuan karena surga dan nerakanya istri tergantung suami. Tapi kalau dengan logika yang lebih dalam sedikit, itu benar-benar patokan yang sangat beradab dalam keluarga.

Rumah tangga yang jiwa suami-istrinya tidak berkimia secara sinergis dan suportif, yang digambarkan dengan kalimat manut dan katut, akan memunculkan problem yang bisa jadi: pura-pura harmonis, terpaksa harmonis, atau harus menanggung beban keharmonisan atau bisa juga akan terancam perpecahan. Kalau suami hebat sendiri tanpa melibatkan istri supaya hebat juga, atau sebaliknya, maka lama kelamaan akan seperti minyak dan air yang ditaruh dalam botol.

Ada lagi contoh kearifan local yang bisa kita nilai sebagai acuan tertinggi dari pengembangan Kecerdasan Emosional (EQ). Dalam pengembangan EQ, pilar utamanya adalah kesadaran-diri dan keseimbangan. Oleh peradaban tradisional, kita sudah diajari bagaimana mencerdaskan emosi yang bisa kita lihat dari ungkapan “Ngono yo ngono nanging ojo ngono� (begitu ya begitu tapi jangan begitu). Silahkan kita marah, tapi jangan terlau marah. Silahkan kita jengkel, tapi jangan tidak ada remnya. Silahkan kita sukses, namun jangan terlalu merasa sudah sukses. Dan seterusnya.

Masih tak terhitung banyaknya panduan hidup yang bisa kita gali dari peradaban tradisional itu. Supaya kita tidak malah lemah dalam mempraktekkannya atau salah paham lalu menghinanya, memang perlu kita ciptakan pemahaman baru (new understanding about something). Pemahaman baru itu biasanya akan muncul saat kita sudah mau membuka diri, mencerna, dan bereksplorasi, membekali diri dengan referensi, atau membandingkannya secara positif.


Syarat Mendapatkan Pencerahan Baru
Kalau mengikuti traditional wisdom Jawa, syarat untuk mendapatkan pemahaman baru yang mencerahkan itu ada tiga, yaitu:
1. Kemampuan menghilangkan / menyimpan (untuk sementara) pemahaman dogmatik yang telah kita miliki (belenggu persepsi, pemahaman lama, dst)
2. Kemampuan mempersiapkan diri untuk membuka pikiran dan hati
3. Kesediaan diri untuk melakukan pengembaraan ke dalam jagat kaweruh (buana pengetahuan) yang lebih luas

Begitu kita sudah membatasi pikiran dan hati dengan pengetahuan yang kita miliki, atau dengan pengalaman yang pernah terjadi, atau dengan profesi yang kita tekuni, maka kemungkinan kita untuk merambah ke jagat kaweruh yang baru semakin tertutup. Kita kemudian sering melihat persoalan dari profesi yang kita tekuni, bukan dari prinsip hidup yang bekerja.

Karena kita menekuni profesi dosen manajemen, maka kita kemudian menyimpulkan bahwa masalah bangsa Indonesia ini karena manajemen. Karena kita trainer spiritual, maka kita menyimpulkan masalah bangsa ini adalah spiritual. Karena kita ustadz, maka kita menyimpulkan masalah bangsa ini adalah kemungkaran. Karena kita pakar pembangunan, maka masalah bangsa ini karena pembangunan yang salah, dan seterusnya.

Komentar yang bernada judgmental itu muncul karena bisa jadi kita masih belum belajar untuk menyimpan (untuk sementara) pengetahuan, pengalaman, dan profesi kita, belum siap belajar untuk membuka diri melihat realitas, atau belum ada kesediaan untuk mengembara menjelajahi jagat kaweruh yang lebih luas atau yang lebih dalam lagi.


Rasional yang Tidak Rasional
Tuhan mengkritik manusia karena suka “ingin rasional� dengan cara ingin men-dualistik-kan segala sesuatu, padahal apa yang dilakukannya itu tidak rasional. Misalnya kita menginginkan orang lain itu harus seperti kita, padahal sudah jelas manusia itu berbeda-beda. Kita menyalahkan agama orang lain hanya karena tidak seperti kita, padahal Tuhan sendiri yang membikin agama-agama itu dan memang selamanya agama di dunia ini tidak satu.

Kita juga sering menginginkan semua orang harus baik dan kejahatan haruslah musnah dari muka bumi. Ini tidak rasional. Kenapa? Menurut desain Tuhan, dunia ini memang harus ada kebaikan dan keburukan dan keduanya dikasih nyawa. Kalau Tuhan mengikuti rasio kita, akan ada jutaan orang-orang baik yang tidak punya pekerjaan. Tugas orang baik hanyalah menyampaikan (dalam berbagai pengertian) dan memperjuangkan kebaikan serta menegakkan hukum untuk orang yang tidak baik, dari mulai yang soft sampai yang hard.

Ada lagi ungkapan yang sangat lucu dan tidak rasional, tapi itu sering kita pahami sebagai kebenaran yang rasional. Misalnya kita berpikir tak akan menyampaikan kebaikan pada siapapun sebelum kita menjadi orang yang benar-benar baik atau sempurna. Tak jarang juga kita menghina orang yang menyampaikan kebaikan karena menurut kita orang itu masih punya keburukan.

Pertanyaannya adalah, kapan kita akan benar-benar sempurna? Apa bisa kita mencapai kesempurnaan yang mutlak? Kalau semua orang kita ajak berpikir seperti kita, lalu siapa yang menyampaikan kebaikan itu? Sampai kapan pun, tak mungkin kita mencapai kesempurnaan. Tugas kita bukan untuk mencapai kesempurnaan, melainkan berjuang mencapainya. Supaya energi perjuangan itu terus menyala, syaratnya adalah mencintai kebaikan yang kita buktikan dengan menyuarakan kebaikan lalu menjalankan kebaikan yang kita suarakan itu dengan perjuangan, bukan menunggu sampai sempurna atau hanya menyampaikan.

Nah, kembali ke bahasan kita, di sini ada yang perlu kita sadari bahwa rasionalisasi yang kita lakukan seringkali menjebak kita pada praktek hidup yang tidak rasional. Ini kemudian membuat kita gampang menghina warisan peradaban tradisional yang menurut kita tidak rasional, dan karena itu layak ditinggalkan. Menurut kita, yang rasional itu adalah meninggalkan yang lama, karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan baru, padahal menurut kehidupan, untuk menghadapi segala perkembangan baru itu dibutuhkan kearifan lama dan pencerahan baru.


Membangun Kesadaran
Dunia ini sebetulnya tidak terlalu peduli apakah kita mau menghormati nilai-nilai spiritual tradisional atau tidak. Cuma, dunia ini memberikan pilihan. Pilihannya adalah, kalau kita menghormati, dalam arti menggunakan nilai-nilai itu dalam menghadapi kenyataan hidup sehari-hari, maka keputusan kita tidak hanya akan menghasilkan solusi yang here and now, berjangka pendek, terlalu hanya berdasarkan kasus, terlalu hanyut oleh realitas, terlalu berdasarkan hasil material semata.

Sebaliknya, jika kita tetap membuka diri untuk menghormati nilai-nilai tradisional yang telah kita engineering pemahamannya, maka akan ada kesempatan untuk memunculkan keputusan hidup yang tidak semata berdasarkan realitas temporer, melainkan keputusan yang berprinsip, berjangka pendek dan berjangka panjang, berdasarkan hasil material dan spiritual.

Tentu, untuk memunculkan rasa hormat itu, yang lebih dulu diperlukan adalah membangun kesadaran akan pentingnya nilai-nilai tradisional, entah yang berdasarkan warisan peradaban nenek moyang atau yang lain. Darimana kesadaran dibangun? Kalau untuk anak-anak atau untuk pembangunan bangsa, kesadaran itu harus dibangun dari mulai keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama kali, pendidikan formal, informal, dan non-formal, dan terakhir adalah pembentukan kultur hidup yang dimulai dari pemimpin negara dan tokoh masyarakat.

Tapi, kalau untuk kepentingan diri kita semata, maka semua itu tidak terlalu kita butuhkan. Kenapa? Untuk menjadi orang yang lebih baik, kita bisa memulai melakukannya tanpa menunggu peranan siapapun. Jika kita ingin bukti, mari kita buktikan. Semoga bermanfaat
Share this article :
 
Reaksi: 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. ILMU TENTANG DUNIA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger